1 Desember 2025 | Dilihat: 707 Kali

Di Balik Penipuan Investasi Properti Bodong : Apa yang Sebenarnya Terjadi Di Kepala Pelaku ?

Di Balik Penipuan Investasi Properti Bodong : Apa yang Sebenarnya Terjadi Di Kepala Pelaku ?
Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Kasus penipuan investasi properti bodong terus bermunculan di berbagai daerah. Modusnya beragam, mulai dari iming-iming rumah murah, kavling siap bangun, kost murah, hingga proyek apartemen yang dijanjikan “pasti untung”. Banyak korban tergiur karena tawaran terlihat rapi, legalitas tampak meyakinkan, dan pelaku tampil sangat meyakinkan di hadapan calon korban.

Namun, di balik semua itu, muncul pertanyaan penting : apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala pelaku penipuan investasi properti?

Psikolog Irawati Damanik, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa sebagian besar pelaku penipuan investasi justru berpikir sistematis, terencana, dan memahami betul cara membaca calon korbannya.

“Pelaku penipuan properti umumnya sangat sadar dengan apa yang mereka lakukan. Mereka tahu itu salah, tapi mampu menyingkirkan rasa bersalah demi keuntungan finansial,” ujar Irawati.

Salah satu ciri utama pelaku penipuan, adalah rendahnya empati afektif, yakni ketidakmampuan merasakan penderitaan orang lain secara tulus. 

Namun yang menarik, mereka justru sangat piawai memalsukan empati. Mereka bisa menangis, memelas, menggunakan narasi penderitaan, dan berpura-pura menjadi korban demi membangun kepercayaan. 

Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai instrumental empathy, yaitu empati yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pelaku memahami emosi orang lain bukan untuk peduli, melainkan untuk mengendalikan.

Selain memanipulasi emosi, pelaku penipuan juga kerap memanfaatkan apa yang dikenal sebagai authority bias, yakni kecenderungan seseorang untuk lebih mudah tunduk dan percaya pada sosok yang dianggap memiliki kekuasaan atau otoritas. 

Tidak jarang pelaku mengaku sebagai aparat, ustaz, pejabat, pengelola yayasan, hingga relawan resmi agar calon korban merasa aman dan tidak berani banyak bertanya. Simbol seragam, jabatan, hingga istilah hukum sengaja digunakan untuk mematikan sikap kritis korban. 

Dalam kondisi ini, korban bukan hanya diyakinkan secara logika, tetapi juga ditekan secara psikologis agar patuh tanpa sempat berpikir panjang.

Selain itu, pelaku penipuan cenderung mahir dalam manipulasi emosi, memiliki rasa bersalah yang rendah, serta orientasi kuat pada keuntungan pribadi. Mereka juga hidup dengan moral yang lentur, jarang memandang perbuatannya sebagai kesalahan mutlak. Di dalam kepalanya, selalu ada narasi pembenaran, seperti anggapan bahwa mereka hanya “memanfaatkan peluang”.

Berbeda dengan pekerja keras yang berorientasi proses, banyak pelaku penipuan memiliki pola pikir opportunistic cognition, yaitu selalu mencari celah tercepat untuk mendapatkan keuntungan, tanpa mempertimbangkan dampak bagi orang lain.

Di balik kerugian materi yang besar, korban penipuan investasi properti kerap menanggung luka psikologis yang tidak kalah berat. Banyak dari mereka mengalami rasa marah, penyesalan yang mendalam, hingga kehilangan kepercayaan terhadap orang lain. 

Tekanan ini sering merambat ke kehidupan keluarga, memicu konflik rumah tangga, gangguan tidur, kecemasan berkepanjangan, bahkan penurunan semangat hidup. “Yang paling menyakitkan bagi korban sering bukan hanya uang yang hilang, tetapi rasa dikhianati dan runtuhnya rasa aman,” ujar Irawati. 

Ia menambahkan, pada sebagian korban, kondisi ini dapat berkembang menjadi stres berat hingga depresi jika tidak segera mendapatkan dukungan psikologis yang memadai.

Irawati menegaskan, bahwa memahami psikologi pelaku penipuan investasi properti bukan untuk membenarkan perbuatannya, melainkan agar masyarakat lebih waspada terhadap pola manipulasi yang terjadi. 

Menurutnya, penipuan selalu bekerja lewat emosi, terutama saat seseorang terlalu berharap, terlalu takut rugi, atau terlalu tergiur oleh janji keuntungan cepat, sehingga logika kerap kalah. 

Karena itu, Ia mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai tawaran dengan janji untung besar tanpa risiko, harga properti yang jauh di bawah pasar, proyek yang tidak bisa diverifikasi langsung di lapangan, serta adanya tekanan untuk segera mentransfer uang tanpa waktu berpikir.

“Kesadaran dan kewaspadaan adalah langkah awal paling penting bagi masyarakat untuk menghindari jebakan penipuan,” ungkapnya bermaksud menghimbau. (Jdk)