Hari Anak Sedunia 2025 KPAI Catat 25 Anak Bunuh Diri, Psikolog Irawati Damanik Tekankan Pentingnya Ruang Aman Bagi Anak
Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — 20 November 2025, Memperingati Hari Anak Sedunia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis data yang mengkhawatirkan, mengenai kondisi kesehatan mental anak di Indonesia. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, tercatat 25 anak bunuh diri, sebagian besar akibat perundungan (bullying) dan tekanan sosial.
Meski jumlah tersebut menurun dibandingkan dua tahun sebelumnya, KPAI menegaskan bahwa situasi ini tetap merupakan darurat perlindungan anak.
“Setiap angka mewakili satu nyawa, satu mimpi, dan satu masa depan yang hilang. Kita tidak boleh abai,” tegas perwakilan KPAI dalam keterangan tertulis.
Sebagian besar kasus bunuh diri anak dilaporkan berawal dari pengalaman bullying di sekolah. Banyak anak memilih diam karena takut, malu, atau merasa tidak ada yang bisa dipercaya.
Minimnya sistem deteksi dini serta kurangnya respons cepat dari lingkungan sekitar membuat tekanan emosional anak semakin berat.
Psikolog Irawati Damanik, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menilai temuan KPAI tersebut selaras dengan konsep dari Interpersonal Theory of Suicide, yang menjelaskan tiga faktor risiko utama :
1. Perasaan tidak diterima atau terputus dari lingkungan,
2. Perasaan menjadi beban bagi orang lain,
3. Kemampuan menahan rasa sakit emosional yang sudah terbentuk akibat pengalaman buruk berulang.
“Pada anak-anak, tiga kondisi ini lebih berbahaya karena mereka belum memiliki keterampilan emosional yang matang. Ketika mereka merasa sendirian dan tidak dipercaya, dunia bisa terasa terlalu berat untuk ditanggung,” jelas Irawati.
Ia menambahkan bahwa anak-anak sering kali tidak mampu mengungkapkan penderitaan mereka dengan kata-kata, sehingga orang dewasa harus lebih peka terhadap perubahan perilaku kecil sekalipun.
Irawati menekankan bahwa pencegahan hanya dapat terjadi bila anak mendapatkan ruang aman di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial.
“Kadang yang mereka butuhkan hanya seseorang yang mau mendengar tanpa menghakimi. Ketika anak merasa diterima, rasa putus asa bisa mereda,” ujarnya.
KPAI juga mendorong sekolah untuk menindak bullying dengan tegas serta memperkuat program deteksi dini yang memungkinkan guru dan konselor mengidentifikasi risiko sedini mungkin.
Peringatan Hari Anak Sedunia, diharapkan menjadi saat bagi seluruh pihak untuk kembali memastikan, bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kesehatan mental, rasa aman, dan kesejahteraan emosional.
Irawati mengingatkan bahwa tanda-tanda seperti menarik diri, perubahan emosi drastis, penurunan minat belajar, atau sikap terlalu pendiam harus segera ditindaklanjuti.
“Jangan biarkan anak menghadapi dunia sendirian. Kehadiran orang dewasa yang peduli bisa menjadi perbedaan antara putus asa dan harapan,” tutupnya. (Jdk)