01 April 2024 | Dilihat: 441 Kali

Profil Tiga Mantan Direksi PT Timah Tersangka Korupsi Kasus Tata Niaga Timah Guncang

noeh21
    
Jakarta | mapikornews.com — PT Timah Tbk, raksasa tambang timah yang telah lama menjadi penopang ekonomi nasional, kembali terguncang oleh skandal korupsi yang melibatkan jajaran direksi perusahaan. Kejaksaan Agung telah menetapkan tiga orang direktur sebagai tersangka dalam kasus tata niaga timah yang mencoreng reputasi perusahaan tersebut. Tiga tersangka tersebut adalah Mochtar Riza Pahlevi Tabrani, mantan Direktur Utama, Emil Ermindra, mantan Direktur Keuangan, dan Alwin Albar, mantan Direktur Operasional. Senin (1/4/2024).

Kasus ini menyoroti kelemahan dalam tata kelola perusahaan tambang yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Ahmad Dani Virsal, Direktur Utama yang baru menjabat sejak Juni 2023, memberikan respons atas tuduhan tersebut. Dia menyatakan bahwa PT Timah mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung dalam membongkar kasus ini. 

Menurutnya, langkah tersebut diambil dengan tujuan memperbaiki tata kelola pertambangan dan bisnis timah, sehingga nantinya perusahaan dapat berkontribusi secara lebih baik terhadap negara dan masyarakat.

Profil masing-masing jajaran direksi yang terlibat dalam skandal korupsi ini menyoroti latar belakang dan pengalaman mereka dalam dunia industri. 

Mochtar Riza Pahlevi Tabrani, yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama sebelum digantikan oleh Ahmad Dani Virsal, adalah seorang lulusan sarjana Geologi di Universitas Trisakti. Karirnya dimulai di PT Timah pada tahun 2016 setelah diangkat melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), menggantikan Sukrisno sebagai Direktur Utama sebelumnya. Selain di PT Timah, Riza Pahlevi juga memiliki pengalaman di entitas holding pertambangan MIND ID serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

Emil Ermindra, mantan Direktur Keuangan PT Timah, memiliki pengalaman yang luas dalam industri perbankan selama lebih dari 23 tahun. 

Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini telah meniti karir dari posisi Kepala Divisi Perencanaan Strategis hingga Kepala Eksekutif Regional di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebelum bergabung dengan PT Timah. 

Namun, perjalanan karirnya di PT Timah tidak berjalan mulus, tergantikan berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada tahun 2020.

Sementara itu, Alwin Albar, mantan Direktur Operasional, memiliki latar belakang pendidikan yang kuat di bidang teknik. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini bahkan melanjutkan pendidikan strata dua di University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat, sebelum akhirnya memperoleh gelar doktornya dari Texas A&M University. 

Alwin Albar pernah memimpin proyek di Myanmar sebelum kembali bergabung dengan PT Timah sebagai direktur operasional.

Keterlibatan ketiga direktur ini dalam skandal korupsi menimbulkan kekhawatiran akan tata kelola perusahaan dan integritas industri tambang nasional secara keseluruhan. 

Kasus ini juga menjadi sorotan publik terhadap peran regulator dalam mengawasi dan menegakkan hukum di sektor pertambangan.

Dalam konteks ini, perlunya langkah-langkah konkret untuk memperbaiki tata kelola perusahaan dan mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan menjadi semakin mendesak. 

Regulator dan otoritas terkait harus meningkatkan pengawasan serta menegakkan hukum dengan tegas terhadap praktik korupsi dan pelanggaran etika bisnis.

Sebagai salah satu aset ekonomi utama Indonesia, industri tambang timah harus dikelola dengan transparan, bertanggung jawab, dan sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik. 

Hanya dengan demikian, perusahaan seperti PT Timah dapat benar-benar menjadi motor penggerak pembangunan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat maksimal bagi negara dan masyarakat secara keseluruhan.

Skandal korupsi yang melibatkan tiga direktur PT Timah ini tidak hanya menjadi peringatan bagi perusahaan tambang itu sendiri, tetapi juga menjadi panggilan bagi seluruh industri tambang nasional untuk melakukan introspeksi mendalam dan melakukan langkah-langkah konkret untuk memperbaiki tata kelola perusahaan dan memastikan integritas bisnis yang tinggi. 

Hanya dengan demikian, industri tambang timah Indonesia dapat terus berkembang secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi yang positif bagi pembangunan ekonomi nasional. (RF)