14 April 2026 | Dilihat: 187 Kali

DARI "LAMPU KUNING" BANDUNG : KINI SAATNYA TANJABTIM HADIRKAN PSIKOLOG DI SEKOLAH

DARI "LAMPU KUNING" BANDUNG : KINI SAATNYA TANJABTIM HADIRKAN PSIKOLOG DI SEKOLAH

Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Kondisi kesehatan mental pelajar yang semakin kompleks kini menjadi perhatian serius di berbagai daerah. Langkah strategis yang diambil oleh Pemerintah Kota Bandung dengan melibatkan tenaga psikolog profesional secara langsung di lingkungan sekolah, menjadi sorotan penting dan bahan perbandingan yang sangat relevan bagi dunia pendidikan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). 

URGENSI PENANGANAN: DARI LAMPU KUNING HINGGA INTERVENSI AKTIF 

Dikutif dari FORTALJABAR : Di Kota Bandung, upaya penguatan layanan kesehatan mental ini dilakukan menyusul meningkatnya temuan kasus gangguan emosional dan perilaku, khususnya pada jenjang SMP.

Anggota Majelis Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Barat sekaligus Dosen Universitas Islam Bandung (Unisba), M. Ilmi Hatta, menilai kondisi saat ini sudah masuk kategori "lampu kuning" yang membutuhkan perhatian serius. 

"Di sekolah memang sudah ada Guru BK, namun kewenangan dan kapasitasnya terbatas. Untuk kasus-kasus tertentu yang cukup berat, tidak bisa hanya ditangani oleh Guru BK semata. Harus ada psikolog yang turun langsung memberikan intervensi dan terapi," ungkap Ilmi. 

Oleh karena itu, konsep yang diterapkan di Bandung tidak hanya menempatkan psikolog untuk menangani siswa, tetapi juga memperkuat sistem dengan memberikan pelatihan kepada Guru Bimbingan Konseling (BK).

Tujuannya agar para guru mampu mengenali gejala awal, melakukan penanganan pertama, dan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk merujuk ke tenaga profesional. 

Program ini sejalan dengan komitmen untuk menjaga kesejahteraan mental (well-being), kebahagiaan, dan konsentrasi belajar siswa, serta melibatkan peran orang tua melalui edukasi, mengingat banyak masalah berakar dari lingkungan rumah. 

"Ini tidak bisa dikerjakan satu pihak saja. Harus ada kerja sama antara sekolah, psikolog, pemerintah, dan orang tua. Intervensi menyasar anak, tapi juga lingkaran di sekitarnya," tegasnya. 

RELEVANSI DAN TANTANGAN DI TANJABTIM 

Kondisi yang sudah memerlukan tindakan cepat di Bandung tersebut, sepatutnya menjadi sistem peringatan dini bagi Tanjabtim agar tidak terlambat bertindak.

Mengingat tantangan perilaku dan emosional generasi muda saat ini semakin kompleks, kehadiran tenaga psikolog di sekolah bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mutlak. Seperti yang disampaikan praktisi, Guru BK memiliki peran penting namun memiliki batasan dalam kewenangan.

Untuk penanganan yang bersifat klinis, mendalam, dan terapi, tentu memerlukan keahlian khusus yang dimiliki oleh Psikolog. Oleh karena itu, model kolaborasi lintas sektor seperti yang diterapkan di Bandung sangat relevan untuk diadopsi. 

HARAPAN REALISASI DI DAERAH 

Di Tanjabtim sendiri, harapan akan adanya tenaga psikolog di setiap satuan pendidikan diharapkan menjadi perhatian, sejalan dengan instruksi Kementerian Kesehatan yang menekankan pentingnya aspek kesehatan mental dalam sistem pendidikan. 

"Seperti yang dilakukan di Bandung, intervensi harus menyasar anak, tapi juga melibatkan lingkungan sekitarnya termasuk edukasi orang tua.

Jika model ini bisa diterapkan di Tanjabtim, maka pembentukan karakter dan kesejahteraan mental siswa akan jauh lebih terjaga," ungkap pemerhati pendidikan setempat. 

Dengan adanya contoh nyata dan urgensi tersebut, diharapkan Pemerintah Daerah dapat segera merealisasikan kehadiran Psikolog di sekolah-sekolah. Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif dan kuratif demi mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional, tangguh, dan berkarakter kuat. (Jdk)