Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Mengalir dalam untaian doa dan kesucian adat, dikediaman keluarga besar bapak H. Ambo Tang, S.E., dan Hj. Sri Ningsih Puspita, S.E. di kawasan Gelora Paduka Berhala-Muara Sabak Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), atas berlangsungnya prosesi sakral Mappacci (malam penyucian diri) pada Rabu malam, 01 Juli 2026.
Ritual adat Bugis Sulawesi Selatan yang penuh khidmat ini digelar menjelang hari bahagia resepsi pernikahan putra kedua mereka yaitu dr. Benny Kurniawan bersama tambatan hatinya, dr. Alya Maharani Putri. Kehadiran orang tua mempelai wanita, Drs. H. Andi Makka dan dr. Hj. Andi Pada, M.Kes., menambah kehangatan dan keharmonisan rumpun keluarga besar yang menyatu dalam ikatan tradisi leluhur.
Diawali dengan penampilan Tari Padduppa, Gerakan yang luwes, teratur, dan anggun menyampaikan pesan penyambutan tulus, rasa syukur, serta permohonan keamanan dan keberkahan bagi seluruh hadirin.
Irama dan gerak tarian ini menciptakan suasana tenang dan khidmat, membuka jalan yang indah sebelum memasuki rangkaian utama.
Berkah doa terasa begitu religius ini turut dihadiri oleh bapak Wakil Bupati Tanjabtim, H. Muslimin Tanja, S.Th.I., M.Si, serta bapak H. Yunus, yang hadir sebagai kerabat dekat sekaligus representasi keluarga besar etnis Bugis dari Desa Sungai Raya, Kecamatan Nipah Panjang.
Kehadiran para tokoh ini memberikan restu mendalam bagi kedua mempelai yang sama-sama berprofesi sebagai dokter tersebut.
Untaian makna dalam sentuhan Malam Mappacci berjalan penuh haru saat satu per satu perwakilan keluarga, tetua adat, dan tamu kehormatan bergantian mengusapkan daun pacci ke telapak tangan kedua mempelai.
Setiap usapan di atas lapisan sarung sutera (lipa) menyimbolkan keteguhan martabat, kesucian hati, dan harapan agar bahtera rumah tangga yang akan dibangun senantiasa diberkahi kelimpahan rezeki serta keharmonisan.
Melalui ritual suci ini, kedua keluarga besar berharap seluruh rangkaian hingga resepsi pernikahan yang akan berlangsung esok harinya Kamis 02 Juli 2026 dapat berjalan dengan lancar, membawa berkah, serta melestarikan pilar-pilar budaya Sipakatau (saling menghormati) di tanah rantau.
Setiap sentuhan membawa harapan kesucian hati, keteguhan martabat, keharmonisan, dan rezeki yang melimpah. “Satu Ikatan, Satu Ridho Nya” menjadi doa agar prosesi ini diridhai Allah SWT.
Demikian prosesi malam Mappacci yang juga diiringi tarian khas hingga segenap rangkaian sakral tersebut berlangsung dengan penuh khidmat yang menunjukkan kebahagiaan bagi kedua pihak keluarga mempelai. (Jdk)