Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), terus bergerak sejalan dengan kebijakan nasional dalam upaya percepatan hilirisasi komoditas kelapa. Upaya strategis ini dilakukan dengan mengusung konsep Model Ekonomi Sirkular dan Net Zero Carbon guna menjadikan kelapa sebagai produk unggulan yang bernilai tinggi. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tanjabtim, Drs. Ali Fahrudin, M.PA, menyampaikan hal tersebut, Sabtu (11/04/26).
Ia menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari visi besar pemerintah yang dikoordinir oleh Bappenas, dengan menggandeng Lembaga Rumah Kelapa Indonesia (RoeKI) sebagai wadah kolaborasi nasional.
"Melalui wadah ini, kita memperkuat sektor kelapa dari hulu hingga hilir, melibatkan seluruh pemangku kepentingan mulai dari petani, asosiasi, akademisi, hingga pemerintah," ungkap Ali Fahrudin.
RoeKI sendiri berfokus pada tiga aspek utama: inovasi teknologi, pengembangan industri, dan hilirisasi produk. Tujuannya jelas, yaitu meningkatkan produktivitas, kualitas, serta keberlanjutan (sustainability) usaha.
Hal menarik dan menjadi perhatian saat ini adalah kedatangan investor asal Jerman yang tertarik menanamkan modal di sektor ini. Investor tersebut membawa konsep pengelolaan ekonomi berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi canggih.
"Konsep yang ditawarkan adalah ekonomi sirkular, di mana tidak ada lagi limbah yang terbuang. Seluruh bagian kelapa dimanfaatkan sehingga memberikan manfaat maksimal, sekaligus sejalan dengan isu global Net Zero Carbon," terangnya.
Dengan metode ini, produksi dapat ditingkatkan secara signifikan namun tetap menjaga keseimbangan dan kesehatan lingkungan. Saat ini, pihak investor masih melakukan kajian mendalam terkait potensi sumber daya yang ada.
Mereka meneliti volume limbah kelapa, seperti tempurung (batok) dan sabut, untuk kemudian ditentukan teknologi paling tepat dalam pengolahannya. Hasil olahan tersebut nantinya akan diubah menjadi produk-produk strategis yang memiliki nilai jual tinggi di pasar global, antara lain bahan isolasi atau peredam, co-firing atau campuran batubara, hingga berbagai produk turunan lainnya.
"Tujuannya agar seluruh hasil olahan dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. Ini tentu akan sangat menguntungkan bagi daerah maupun masyarakat luas secara berkelanjutan," pungkas Ali Fahrudin. (Jdk)