Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Kondisi drainase atau parit di sepanjang jalan utama PetroChina, tepatnya di ruas Simpang Garuda menuju Perkantoran Bukit Benderang, Kelurahan Rano, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), telah lama menjadi sorotan serius.
Lokasi ini terindikasi rawan genangan air yang mengganggu akses pengguna jalan dan ancaman serius yang berdampak banjir hingga ke pemukiman warga sekitar jika intensitas hujan meningkat.
Hal ini disampaikan oleh warga sekitar, Danton, kepada awak media, Jumat (17/04/2026). Menurutnya, fenomena banjir di lokasi tersebut bukan hal baru dan memiliki potensi tinggi untuk terulang kembali.
"Banjir hingga setinggi lutut orang dewasa pernah terjadi pada bulan Januari lalu. Jika hujan turun dengan intensitas tinggi, debit air tidak tertampung dan akan meluap menggenangi permukaan ruas jalan," ungkap Danton.
Menurutnya, penyebab utama masalah ini adalah tersumbatnya dan menumpuknya lumpur serta sampah di parit bahu jalan yang membentang jalan sekira 1.500 meter. Kesabaran warga Kelurahan Rano, tepatnya di ruas Jalan Utama PetroChina Simpang Garuda, seolah sudah diujung tanduk.
Keprihatinan berubah menjadi kekecewaan mendalam, bahkan rasa setengah marah, lantaran tidak ada tindakan nyata dari pihak yang dianggap bertanggung jawab. Hal ini diungkapkan oleh Danton yang juga politisi Sekretaris DPC Gerindra Tanjabtim ini dan telah bermukim lebih dari 25 tahun di lokasi sekitar tersebut.
Ia katakan, kondisi banjir memprihatinkan tersebut baru terjadi dalam dua tahun terakhir, namun penanganannya nihil.Dan ini baru dua tahun terakhir ini betul-betul parah, jalan raya ini berubah menyerupai sungai," ungkap Danton bernada kecewa.
Danton menjelaskan, saat hujan turun, debit air tidak tertampung sama sekali. Ketinggian air bahkan bisa mencapai lebih dari setengah meter di atas permukaan aspal.
Dampaknya sangat fatal bagi pemukiman. Air meluap dengan cepat masuk ke halaman hingga rumah penduduk sekitar. "Rata-rata semua rumah warga di Simpang Garuda telah mengalami dampak masuk air setinggi 35 cm lebih. Bayangkan, aktivitas terhenti, barang-barang rusak, tapi tidak ada yang peduli," terangnya.
Yang membuat warga semakin kesal dan merasa diperlakukan tidak adil adalah sikap diam seribu bahasa yang ditunjukkan oleh pihak perusahaan maupun pemerintah daerah. Danton menyoroti ironi yang terjadi. Di satu sisi, aktivitas dan operasional perusahaan berjalan lancar dan menghasilkan keuntungan, namun di sisi lain, penderitaan masyarakat sekitar diabaikan begitu saja.
"Yang anehnya, pihak PetroChina dan Pemda hanya diam. Seakan-akan ini hal biasa saja. Yang penting mereka tidak dirugikan, kalau masyarakat yang dirugikan, itu mungkin sudah hal wajar dan biasa bagi mereka," cetus Danton setengah marah.
Melalui media ini, Danton mewakili warga menyampaikan pesan keras agar ada perhatian penanganan serius dampak banjir yang dimaksud jangan sampai kesenjangan antara pembangunan dan kesejahteraan masyarakat semakin jauh.
"Saya berharap agar pihak terkait, baik PetroChina maupun Pemda, coba lihat dan perhatikan sungguh-sungguh keluh kesah kami. Jangan hanya bisa menikmati hasil dan keuntungan, tapi tidak mempedulikan nasib masyarakat sekitar yang menderita," tandasnya.
Warga menuntut tindakan nyata, bukan sekadar janji atau kepura-puraan peduli. Keselamatan dan kenyamanan masyarakat harus menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap, ungkapnya kesal. (Jdk)