26 Juni 2026 | Dilihat: 262 Kali

Pembagian Bansos di Kantor Pos & Giro Masohi Bulan Mei Tahun 2026, Kembali Menjadi Sorotan, Kadis Sosial Malteng Diminta Jangan Terulang Lagi

Pembagian Bansos di Kantor Pos & Giro Masohi Bulan Mei Tahun 2026, Kembali Menjadi Sorotan, Kadis Sosial Malteng Diminta Jangan Terulang Lagi

Malteng | mapikornews.com — Pembagian bantuan sosial dari Kementrian Sosial RI untuk penderita disabilitas dan lansia di Kantor Pos & Giro Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku pada Bulan Mei Tahun 2026, kembali menjadi sorotan. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Maluku Tengah diminta untuk jangan lagi terulang dalam membuat kebijakan yang merugikan kami penderita disabilitas dan lansia. Kamis 25 Juni 2026.

Mewakili  penderita Disabilitas Kabupaten Maluku Tengah, Erik Kelelufna saat ditemui media mapikornews.com - di kediamannya di Negeri Layeni Kecamatan Teon Nila Serua (Waipia/TNS), Jumat 26 Juni 2026, saat dimintai pendapatnya terkait pembagian sembako di Kantor Pos dan Giro Masohi, dengan nada kesal, Erik Kelelufna, mengatakan saya sangat kecewa dengan aturan yang dibuat oleh Kepala Dinas Sosial, kami sebagai penderita disabilitas , dihubungi oleh pendamping, kalau ada pembagian uang satu juta yang nanti kami terima di Kantor Pos dan Giro Masohi, dan saat saya dengar untuk terima uang saya senang, karena mau terima uang, sehingga walaupun saya tidak punya uang, saya minjam 20 ribu untuk ongkos mobil ke Masohi, dan saat itu bapak saya juga sakit dan dirujuk ke RS di Ambon, jadi saya turun ke Masohi diantar oleh orang.

Lanjut Erik,saya kan tidak bisa berjan dan hanya di kursi roda, itupun harus didorong oleh orang lain' sudah bersemangat dengan harapan mau terima uang namun sangat merasa kecewa, karena saya disuruh foto pegang uang, tetapi setelah difoto uang ditarik kembali oleh ibu pegawai Kantor Pos dan Giro Masohi, dan di kasi sembako, ini tidak sesuai dengan yang diharapkan,cita cita ingin beli baju,celana dan kebutuhan lain,mala di kasi sembako, untuk itu saya minta dengan hormat kepada Kepala Dinas Sosial Kabupaten Maluku Tengah, untuk lain' kali jangan lagi seperti ini, harapanya.

Media mapikornews.com - juga mengunjungi sala satu penderita disabilitas, Moncer Tamala, Moncer Tamala ini penderita disabilitas yang sudah 25 tahun, hanya bisa berbaring, tidak bisa duduk, dan berbalik badan pun haru dibantu oleh orang tua, Moncer Tamala tinggal bersama ibunya yang sudah berusia 75 tahun sebagai seorang ibu janda, ibu rumah tangga biasa,dan kakak perempuan, Sinta Tamala yang sehari hari berkebun dan kerja serabutan untuk menopang kehidupan keluarga.

Sinta Tamala, kakak dari Moncer Tamala, mengatakan kami sangat berterima kepada Kementerian Sosial RI, yang sudah membantu kami melalui uang 1 juta rupiah yang dikirimkan melalui Kantor Pos dan Giro Masohi, tetapi mengapa bukan uang yang diterima tetapi sembako, kebutuhan Moncer ini bukan cuman sembakau, tetapi mau beli baju, celana, dan dia membutuhkan mepres, karena dia cuman bisa berbaring.

Sinta Tamala, juga mempertanyakan kenapa penderita disabilitas ada punya buku rekening bank, kenapa dana bantuan sosial tidak ditransfer ke rekening masing - masing, biar nanti pendamping yang mengantar untuk  belanjaan sesuai dengan kebutuhan Moncer.

Sinta juga menegaskan kalau pemerintah mau membantu penderita disabilitas dan lansia tolong, jangan dijadikan bisnis lagi oleh oknum - oknum Dinas Sosial Kabupaten Maluku Tengah.

Semoga kalau pemerintah mau membantu penderita disabilitas dan lansia kedepannya jangan lagi seperti kejadian bulan kemaren.         

Tamala juga minta Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir, untuk menegur Kepala Dinas Sosial dan kepala Bidang yang menangani, penderita disabilitas dan lansia, agar bantuan dari Kementrian Sosial kedepannya jangan sampai ada oknum - oknum Dinas Sosial menyalai aturanya.                             

Ditanyakan bahan sembako apa saja yang didapa dari Kantor Pos dan Giro, Sinta Tamala merincikan jenis bahan sembako :                          1. Beras 2 Udang1 karung 10 kg.

2. Handuk Lebar besar 1  buah.                                3. Susu Dancow Coklat 1 kg.                                  4. Kecap manis ABC 1 bolol kecil .                          5. Madu Tj 1 bolol kecil.

6. Daun Teh Sari Wangi 2 Dos , 1 dos kecil dan 1 dos besar .

7. Sikat gigi 3 buah .                                       

8. Pepsodent 225 gram 3 dos.                              9. Sabun Cair Lifebuoy besar 3 botol.                    10. Sampo Sunsilk kecil 3 botol.                          11. Biskuit mingguan sedang 1 kaleng .                12. Rinso Bubuk  ( Daia ) 1 kg.                                 

Kata Sinta, anehnya mereka kasi Daun Teh dan Susu Dancow, tidak ada gula pasir,dan menurut mereka bahan sembako itu hargganya 1 juta, saya sempat protes kepada Kepala Dinas Sosial 

Kabupaten Maluku Tengah,kalau boleh untuk Moncer Tamala, biar kita minta uang karena kebutuhan Moncer Tamala yang paling utama adalah pemores, baju dan celana, tetapi kepala dinas menolak, dan saran beliau kalau bawa sembako itu dijual ke pasar dijamin 100 persen bisa laku 1 juta rupiah.

Sinta Tamala,minta kepada Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir, tolong perintakan dan minta kepada kepala dinas sosial agar jangan terulang lagi membuat aturan maupun kebijakan yang dapat merugikan penderita disabilitas dan lansia terkait dengan bantuan sosial dari Kementrian Sosial RI. Tutupnya.         

Media mapikornews.com - melakukan konfirmasi dengan pihak Kementerian Sosial RI, melalui pesan singkat WhastAps, minta tanggapan terkait polimik pembagian sembako di Kantor PT Pos dan Giro Masohi Maluku Tengah, beliau mengatakan kami di kementrian sudah tahu hal itu melalui media sosial, dan itu salah, sesuai dengan SOP, penerima manfaat, penderita disabilitas dan lansia itu harus menerima uang cash 1 juta rupiah dari Kementerian Sosial RI melalui Kantor PT Pos dan Giro Masohi, penerima manfaat itu mereka harus terima uang bukan sembako, jadi penerima manfaat setelah menerima uang dari Kantor PT Pos dan Giro, penerimaan manfaat mereka didampingi oleh petugas pendamping ke toko, dan belanja kebutuhan ikuti kebutuhan penerima manfaat.   

Ditanyakan kalau pembagian bansos dianggap melanggar SOP, apakah oknum - oknum  pelaksana ini diberikan sangsi,? Kami sudah laporkan ke pimpinan jadi sangsi itu kewenangan Pimpinan. Kami berharap kedepannya tidak ada lagi kejadian serupa,harapanya.(MO-AH)