Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Kondisi pendangkalan dan penyumbatan saluran air pada parit primer di wilayah Desa Catur Rahayu, Kecamatan Dendang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), kini menjadi sorotan serius.
Saluran vital yang seharusnya menjadi nadi pembuangan air justru dibiarkan menyempit dan tertutup gulma, sehingga berpotensi besar memicu bencana banjir yang merugikan masyarakat sekitar. Fenomena ini terbukti menjadi penyebab utama meluapnya air saat curah hujan tinggi, seperti yang terjadi pada bulan Januari lalu.
Akibat aliran air yang tersendat, banjir merendam permukiman warga hingga mengakibatkan warga dari tiga desa, yakni Catur Rahayu, Jatimulyo, dan sebagian wilayah Rantau Indah, terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, termasuk di tenda pengungsian Desa Jatimulyo. Suroso, warga yang bermukim di sekitar saluran tersebut, didampingi oleh Ketua RT 01, Poniman, saat dikonfirmasi di lokasi, Sabtu (11/04/26), menuturkan keprihatinannya.
Menurutnya, parit primer yang melintas di Dusun 4 ini sama sekali tidak pernah mendapatkan perhatian berupa normalisasi dari Pemerintah Daerah (Pemda) sejak wilayah ini dibuka sebagai pemukiman transmigrasi pada tahun 1980.
"Sejak awal dibuka hingga sekarang, Pemda sama sekali belum pernah melakukan normalisasi secara menyeluruh. Perbaikan hanya dilakukan sebagian kecil dan itupun murni dari swadaya masyarakat sendiri," ungkap Suroso.
Lebih spesifik mereka menjelaskan, parit primer ini memiliki fungsi sangat vital sebagai penghubung utama yang menyalurkan air menuju kanal besar di Jembatan Kuning, Desa Sidomukti, dengan panjang estimasi mencapai 5 kilometer.
"Percuma saja jika parit-parit sekunder diperbaiki, sementara induk saluran atau parit primernya dibiarkan dangkal dan penuh sampah/gulma. Saat hujan deras datang akhirnya meluap masuk ke pemukiman warga " tambahnya.
Bahkan, dalam dua tahun terakhir, ketinggian air yang masuk ke rumah warga sudah mencapai setinggi jendela. Oleh karena itu, masyarakat menilai pengerukan dan pelebaran parit ini sudah menjadi keharusan mutlak yang tidak bisa ditunda lagi.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Catur Rahayu, Ekyantoko Budiantoro, membenarkan keluhan yang disampaikan warganya. Ia menegaskan bahwa pihak pemerintahan desa telah berupaya maksimal menyuarakan kebutuhan normalisasi ini.
"Kami sudah berulang kali mengusulkan kegiatan normalisasi ini melalui forum Musrenbang Kecamatan dari tahun ke tahun. Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada realisasi dan tindak lanjut yang nyata dari Pemda," terang Ekyantoko.
Masyarakat dan pemerintah desa berharap, kondisi yang sudah mengancam dampak banjir ini segera mendapatkan perhatian serius dari instansi terkait, agar peristiwa banjir yang berulang tidak kembali terjadi di masa akan mendatang, ungkap Kades penuh harap. (Jdk)