Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com —Sesungguhnya, pengadaan seragam sekolah adalah peluang emas. Peluang paling nyata untuk memberdayakan UMKM lokal. Namun di Tanjabtim, peluang itu sirna. Bagai harapan yang hampa.
Di balik ribuan stel seragam sekolah yang dibutuhkan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), tahun 2025 lalu, tersembunyi sebuah ironi yang nyaris tak terdengar dari deru mesin jahit yang menanti.
Ada keringat ibu-ibu, ada harapan bapak-bapak penjahit yang menyebar di wilayah Tanjabtim, ada doa keluarga agar ada orderan yang bisa menopang dapur dan biaya sekolah anak.
Namun kenyataannya pahit. Pesanan besar itu justru berangkat keluar daerah.
Publik bertanya lirih, kenapa? Kenapa harus dipesan dari luar, sementara tukang jahit ada di sekitar kita?
Jawabannya selalu sama dan berulang, "Standarnya belum memenuhi regulasi. Izinnya belum lengkap. Kapasitasnya diragukan." dan sederat dalil pembelaan lainnya.
Di sinilah letak yang terlupakan. Bahkan tersakiti. Pemerintah Daerah lantang berseru "UMKM Naik Kelas". Tapi saat pintu rezeki besar terbuka, gagang pintunya justru dipegang dan ditutup untuk warga sendiri.
Perlahan, potensi lokal ini tumpul di tanahnya sendiri.
Padahal kuncinya sederhana, Edukasi dan Fasilitasi Izin Usaha Berkelanjutan.
Bayangkan jika Pemda hadir bukan hanya sebagai pemberi proyek, tapi sebagai pendamping sejati. Kumpulkan penjahit lokal. Latih standar SNI seragam. Bimbing urus NIB, NPWP, SIUP. Fasilitasi akses bahan baku dan permodalan.
Dengan pendampingan yang terus-menerus, mereka akan tumbuh. Mereka akan memenuhi aturan. Mereka tidak akan lagi kalah start dengan pihak luar yang lebih dulu siap secara administrasi.
Berikut, dampaknya akan berlipat ganda. Pertama, sejahtera merata. Uang pengadaan APBD tidak pergi, berputar di Tanjabtim. Menghidupi konveksi kecil, penjahit rumahan, dan toko kain lokal.
Kedua, meningkatkan PAD. Ketika mereka punya izin usaha, mereka bayar pajak. Ketika mereka berkembang, mereka buka lapangan kerja baru. Pendapatan Asli Daerah kita tumbuh dari dalam, dari keringat warga sendiri.
Ketiga, kebanggaan bersama. Seragam yang dikenakan anak-anak kita, dijahit oleh tangan tetangga. Ada rasa memiliki. Ada cerita. Ada cinta pada produk daerah.
Kini pertanyaan publik dikembalikan kepada para pemangku kebijakan. Apakah pengadaan seragam sekolah tahun ini masih dengan pola yang sama? Masih memesan dari luar daerah? Ataukah pola ini akan berubah?
Jadikan pengadaan seragam sekolah bukan sekadar urusan belanja. Jadikan ia sebagai "sekolah" bagi UMKM kita untuk naik kelas.
Jangan biarkan slogan "UMKM Naik Kelas" hanya menjadi catatan beku di spanduk. Biarkan jarum jahit Tanjabtim yang bergerak. Biarkan kesejahteraan lahir dari keringat warga sendiri.
Karena membangun daerah, selalu dimulai dari memberdayakan yang ada di depan mata.
Seragam Sekolah Tanjabtim untuk Penjahit Tanjabtim. (Jdk)