20 April 2026 | Dilihat: 223 Kali

NORMALISASI SUNGAI RANO KUNCI UTAMA ATASI ANCAMAN BANJIR & PEMYELAMATAN PERTANIAN WILAYAH KELURAHAN RANO-TANJABTIM

NORMALISASI SUNGAI RANO KUNCI UTAMA ATASI ANCAMAN BANJIR & PEMYELAMATAN PERTANIAN WILAYAH KELURAHAN RANO-TANJABTIM

Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Masalah banjir yang kerap melanda wilayah Simpang Garuda dan ruas Jalan Utama PetroChina, Kelurahan Rano, Kecamatan Muara Sabak Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), kini memiliki akar masalah yang jelas secara teknis.

Penyebab utamanya bukan hanya pada saluran pinggir jalan, melainkan karena kondisi Sungai Rano yang sudah tidak optimal dan tertutup rapat oleh gulma serta endapan lumpur. 

Fakta di lapangan menunjukkan, aliran air sungai tersumbat dan tidak lancar. Hal ini menjadi biang kerok utama yang menyebabkan air meluap dan menggenangi permukiman serta jalan raya. 

Secara teknis hidrologi, upaya pengerukan parit bahu jalan oleh pihak manapun tidak akan memberikan hasil maksimal jika Sungai Rano sebagai saluran induk tidak dinormalisasi terlebih dahulu. 

"Sekalipun parit di jalan diperdalam, jika aliran pembuangan utamanya macet, air hanya akan mengendap dan tidak bisa mengalir keluar. Ancaman banjir tidak akan pernah hilang, justru berpotensi merembes lebih luas," jelas analisa teknis lapangan. 

Sungai Rano yang membentang sepanjang 4 Km ini menjadi nadi utama pembuangan air wilayah tersebut. Yang oleh PUPR Tanjabtim baru dikerjakan sekitar 2 Km pada tahun anggaran 2025, sisanya kondisi dipenuhi gulma.Tanpa percepatan penanganan permanen berupa pengerukan dan pembersihan total, warga tidak akan pernah merasa nyaman dan aman dari ancaman genangan. 

Persoalan ini tidak hanya mengancam permukiman, tetapi juga melumpuhkan sektor ekonomi pertanian dan perkebunan akibat sungai yang mampat dan air yang tergenang terus-menerus, lahan pertanian di sekitarnya menjadi tidak produktif. Menurut keterangan Iwan Saputra, PPL Kelurahan Rano, terdapat Kelompok Tani Sumber Rezeki yang menggarap lahan seluas 30 Hektare.

Selama ini mereka terpaksa membiarkan lahannya kosong dan tidak bisa menanam padi atau komoditas lainnya. "Karena air tidak bisa mengalir, lahan terus terendam. Akibatnya, program swasembada pangan tidak bisa berjalan. Potensi hasil panen hilang begitu saja karena pembiaran aliran sungai," ungkap Iwan. 

Normalisasi sungai ini sangat krusial untuk mengembalikan fungsi lahan, menjaga ekosistem, serta mengoptimalkan daya dukung pertanian demi ketahanan pangan masyarakat. Informasi terbaru menyebutkan, pihak perusahaan PetroChina sebenarnya telah menyatakan kesiapannya untuk melakukan perbaikan dan pendalaman parit di bahu jalan.

Namun, ada satu syarat teknis yang mutlak: Sungai Rano harus dinormalisasi terlebih dahulu oleh Pemda. Hal ini menegaskan bahwa tanggung jawab dan kewajiban utama justru berada di tangan Pemerintah Daerah (Pemda) Tanjabtim. Pembiaran kondisi ini juga berdampak buruk pada infrastruktur jalan.

Air yang terus menggenang di permukaan aspal Jalan Utama PetroChina akan mempercepat kerusakan jalan, yang tentu saja merugikan masyarakat Tanjabtim selaku pengguna jalan. Danton, pada Minggu, 19/04/26, mewakili  masyarakat sekitar dan berbagai pihak warga wilayah Kelurahan Rano, menyuarakan dan mendesak agar Pemda segera merealisasikan normalisasi Sungai Rano sepanjang 2 Km lagi tersebut.

Jangan biarkan masalah teknis ini berlarut-larut yang hanya akan menimbulkan kerugian berkelanjutan, mulai dari banjir permukiman, gagal tanam penguatan ketahanan pangan hingga kerusakan jalan raya, jelas Danton.

Kelurahan Rano yang berdampingan langsung dengan pusat pemerintahan Tanjabtim, Waktu mendesak untuk  bertindak nyata, selamatkan wilayah Rano dari ancaman banjir! Pungkas Danton gerah. (Jdk)