22 April 2026 | Dilihat: 130 Kali

HUTAN KOTA TANJABTIM: DIDUGA PENYUMBANG POTENSI BANJIR SIMPANG GARUDA-RANO, SISTEM HIDROLOGIS DINILAI TIDAK BERSTANDAR

HUTAN KOTA TANJABTIM: DIDUGA PENYUMBANG POTENSI BANJIR SIMPANG GARUDA-RANO, SISTEM HIDROLOGIS DINILAI TIDAK BERSTANDAR

Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Keberadaan Hutan Kota Muara Sabak-Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), yang berhadapan langsung dengan wilayah Simpang Garuda, Kelurahan Rano, Kecamatan Muara Sabak Barat, kini menjadi sorotan serius. Kawasan hijau yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga lingkungan justru diduga kuat menjadi penyumbang risiko banjir bagi pemukiman masyarakat sekitarnya. 

Berdasarkan pantauan lapangan, pada, Rabu (22/04/2026), terungkap fakta bahwa ekosistem pembuangan air di kawasan seluas puluhan hektare tersebut, tidak dibangun sesuai dengan standar teknis yang semestinya.

Hutan kota yang letaknya berseberangan langsung dengan perumahan penduduk ini ternyata memiliki kelemahan fatal pada sistem drainasenya. 

"Dari total luasan yang ada, hanya ditemukan saluran parit sepanjang satu kilometer yang terletak sekitar enam meter dari bahu jalan utama PetroChina. Ironisnya, parit tersebut bersifat buntu dan tidak terhubung dengan saluran pembuangan utama,". 

Kondisi inilah yang menjadi pemicu utama. Saat intensitas hujan tinggi, air tidak memiliki jalur evakuasi untuk mengalir keluar. Akibatnya, debit air dengan cepat meluap melebihi kapasitas parit, merendam bahu jalan, dan akhirnya mengancam masuk ke pemukiman masyarakat. 

Hutan kota tidak hanya sebagai paru-paru kota, tetapi juga memiliki peran hidrologis yang krusial. Vegetasi dan tanah di dalamnya seharusnya mampu menyerap serta menahan air hujan, sehingga mengurangi volume limpasan permukaan yang berpotensi menjadi banjir. 

Namun, fungsi pelindung ini mutlak membutuhkan dukungan sistem drainase yang terintegrasi. Fenomena di Rano membuktikan bahwa keberadaan ruang terbuka hijau saja belum cukup menjamin keselamatan warga jika tidak didukung perencanaan teknis yang matang. Dalam pengelolaan air perkotaan, sistem drainase dirancang untuk mengumpulkan dan mengalirkan air ke tempat pembuangan akhir.

Jika saluran dibuat namun berujung buntu, maka ia hanya menjadi penampung sementara dengan kapasitas sangat terbatas. "Saat hujan deras turun, volume air meningkat drastis. Karena terhalang oleh saluran yang tidak memiliki jalan keluar, air akan mencari celah untuk meluap. Air yang seharusnya dikelola justru berbalik arah membanjiri jalan dan pemukiman.

Kondisi ini menjadi pelajaran berharga bahwa penataan sebuah kawasan, terutama yang berfungsi sebagai hutan kota, tidak hanya berorientasi pada estetika dan jumlah pohon yang ditanam. Aspek teknis hidrologi dan konektivitas saluran air harus menjadi prioritas perencanaan.

Hutan kota yang ideal harus dirancang sebagai satu kesatuan ekosistem yang mampu menyalurkan air hujan menuju jaringan drainase utama kota. Hal ini diharapkan menjadi perhatian Dinas terkait "Kedepannya, penataan wilayah ini harus memperbaiki sistem aliran air agar fungsi hutan kota kembali menjadi mitigasi bencana, bukan justru menjadi sumber ancaman bagi keselamatan dan kenyamanan masyarakat,". (Jdk)