22 April 2026 | Dilihat: 134 Kali

Normalisasi Sungai Rano Mendesak Dituntaskan DPC Gerindra Tanjabtim, Efesiensi Tak Logis, SILPA Anggaran 80 M Lebih

Normalisasi Sungai Rano Mendesak Dituntaskan DPC Gerindra Tanjabtim, Efesiensi Tak Logis, SILPA Anggaran 80 M Lebih

Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Ancaman banjir yang kerap melanda Jalan Utama PetroChina - Simpang Garuda, Kelurahan Rano, Kecamatan Sabak Barat, menjadi sorotan tajam. Sekretaris DPC Partai Gerindra Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Danton, S.Sos, menyoroti kelalaian dalam penanganan infrastruktur yang dinilai merugikan masyarakat. 

Dalam keterangannya kepada awak media, Minggu (19/04/2026), Danton yang juga merupakan warga terdampak memaparkan bahwa persoalan utama banjir disebabkan oleh pendangkalan Sungai Rano.

Ironisnya, program normalisasi sungai yang seharusnya menjadi solusi justru tidak diselesaikan secara maksimal. "Faktor utamanya adalah sungai yang dangkal. Pengerjaan normalisasi sepanjang 4 km tidak dituntaskan.

Karena alasan efisiensi anggaran, Dinas PUPR SDA hanya mengerjakan 2 km, sisanya ditinggalkan. Akibatnya, aliran air tidak maksimal dan berdampak langsung pada banjir besar yang terjadi Januari lalu," ungkap Danton dengan nada kecewa. 

Lebih lanjut Danton menekankan, wilayah Kelurahan Rano letaknya sangat strategis dan berdampingan langsung dengan pusat pemerintahan Kabupaten. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kepekaan dan perhatian pemimpin daerah. 

"Dimana hati dan perhatian Pemda Tanjabtim? wilayah ini begitu dekat dengan kantor pemerintahan, namun masalah ancaman banjir dibiarkan berlarut-larut. Sisa pengerjaan yang tidak tuntas ini membuat debit air tetap tidak lancar, meski proyek sudah dikerjakan 2 Km tahun 2025 lalu" tegasnya. 

Politisi Gerindra ini juga membedah alasan yang digunakan. Menurutnya, alasan kekurangan anggaran atau efisiensi tidak dapat diterima, mengingat pada Tahun Anggaran 2025 terdapat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) mencapai lebih dari 80 Miliar Rupiah. "Ini bukan persoalan anggaran yang tidak ada, melainkan persoalan prioritas dan kepedulian.

Ada Silpa lebih dari 80 M, artinya dana tersedia, namun sayangnya pekerjaan vital ini dibiarkan setengah jadi. Seolah membiarkan masalah ini berlanjut yang juga menjadi  ancaman serius merusak pertanian perkebunan hingga masyarakat akan  menunggu menjadi korban yang lebih parah," ujarnya kesal. 

Atas nama masyarakat yang terus menerus dirugikan dua tahun terakhir banjir, Danton meminta Pemerintah Kabupaten Tanjabtim untuk segera bertindak dan tidak lagi menutup mata terhadap ancaman banjir di wilayah tersebut. "Kami meminta Pemda serius menangani ini. Jangan tunggu bencana datang kembali baru bergerak.

Penyelesaian normalisasi sisa 2 km ini harus menjadi prioritas agar masyarakat Rano dan sekitarnya bisa hidup aman dan tenang tanpa rasa was-was akan datangnya air luapan sungai Rano," pungkas Danton. (Jdk)