23 April 2026 | Dilihat: 32 Kali

Transformasi Peran Guru SMA : Kepsek SMAN 8 Tanjabtim, Paparkan Fungsi Baru, Guru Wali & BK Dampingi 9-15 Murid  

Transformasi Peran Guru SMA : Kepsek SMAN 8 Tanjabtim, Paparkan Fungsi Baru, Guru Wali & BK Dampingi 9-15 Murid  

Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Merespons kebijakan pendidikan terbaru, Kepala Sekolah SMA Negeri 8 Muara Sabak Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), M. Tahang, M.Pd, memaparkan secara rinci perubahan struktur dan fungsi peran tenaga pendidik, pada Kamis, 23/04/26. 

Berdasarkan Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025, mulai Tahun Ajaran 2025/2026 diterapkan pembagian tugas yang lebih spesifik antara Guru Wali, Wali Kelas, dan Guru Bimbingan Konseling (BK). Transformasi ini bertujuan mewujudkan pendampingan yang lebih holistik, personal, dan terarah kepada setiap murid. 

Guru Wali adalah jabatan baru yang ditugaskan khusus mendampingi kelompok kecil siswa secara berkelanjutan sejak masuk hingga lulus sekolah, yaitu memantau kemajuan belajar, bakat, minat, dan karakter secara intensif. Mengawal perkembangan murid lintas kelas dan jenjang. Menjembatani komunikasi antara orang tua, guru mata pelajaran, dan sekolah.

Mengidentifikasi potensi masalah atau risiko perundungan sejak dini. Sasarannya akan terwujudnya perhatian khusus (personal attention) agar potensi siswa berkembang maksimal dan karakter terbentuk kuat sejak dini. 

Berikut, peran Wali Kelas kini lebih terfokus pada aspek pengelolaan kelas secara umum dan administrasi. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, tertib, dan aman.

Mengurus data siswa, absensi, dan laporan perkembangan kelas. Memantau kehadiran dan kedisiplinan siswa sehari-hari. Menjalin komunikasi rutin dengan orang tua terkait dinamika kelas. 

Sasarannya :terlaksananya proses belajar mengajar yang teratur, tertib administrasi, dan kegiatan kelas yang terorganisir dengan baik. Lanjut kepada Guru BK, kini bertransformasi bukan lagi sekadar "polisi sekolah", melainkan menjadi konselor profesional dan penggerak ekosistem sekolah yang inklusif.

Memberikan konseling individu maupun kelompok untuk kesehatan mental (well-being).Implementasi "7 Jurus BK Hebat": Pengembangan potensi diri, pengelolaan emosi, resiliensi, dan karakter.

Menangani masalah psikologis, sosial, dan peserta didik berkebutuhan khusus.Memberikan arahan terkait minat bakat dan masa depan murid. Sasarannya, murid tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, sehat secara emosional, bebas dari tekanan, serta mampu mengembangkan potensi diri secara optimal. Lebih lanjut M. Tahang mempertegas teknis pelaksanaan di lapangan untuk menjamin efektivitas bimbingan. 

"Untuk memastikan pendampingan berjalan efektif, masing-masing Guru Wali dan Guru BK melakukan pendampingan secara personal terhadap kelompok kecil siswa. Satu guru hanya membimbing sekitar 9 hingga 15 murid," jelas Tahang. "Jumlah pastinya tentu berbeda-beda di setiap sekolah, tergantung kebutuhan dan ketersediaan guru.

Namun prinsipnya, Guru Wali dan BK fokus pada kualitas pendekatan personal, sedangkan Wali Kelas fokus pada manajemen kelas utuh," tegasnya. M.Tahang lagi menegaskan sasaran utama kebijakan ini adalah memperkuat pendampingan secara holistik. 

"Perubahan ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan psikologis siswa (student wellbeing), mencegah perundungan, dan memastikan pencapaian kompetensi melalui pendekatan deep learning," jelasnya. 

Kebijakan ini tentunya  mendapat sambutan hangat dan apresiasi tinggi dari kalangan orang tua dan wali murid. "Dengan Guru Wali yang hanya membimbing 9-15 siswa, anak-anak pasti lebih diperhatikan satu per satu. Tidak ada lagi murid yang tersembunyi atau terabaikan," logisnya begitu. 

Guru BK kini bukan sekadar menegur, tapi benar-benar membimbing karakter dan kesehatan mental anak. Ini sangat penting di era sekarang," "Konsepnya sangat masuk akal. Wali Kelas fokus administrasi murid, Guru Wali dan BK fokus pendampingan intensif dengan jumlah sedikit. Sehingga perhatiannya bisa maksimal dan mendalam,".

Untuk diketahui lagi, sebutan peserta didik SMA sekarang adalah murid bukan siswa, tambahnya.

Menyikapi transformasi guru ini, para wali murid tentunya berharap sistem ini berjalan konsisten dan berkelanjutan, sehingga melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga sehat jiwa dan berkarakter kuat. (Jdk)