Serang-Banten | mapikornews.com — Ketua Ormas Badak Banten Siprandani mengungkap dengan adanya kejanggalan pengadaan internet Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo SP) Banten untuk SMA/SMK Negeri di Kabupaten Serang. Pengadaan internet itu ternyata menggunakan paket koneksi internasional, padahal kebutuhannya hanya nasional atau domestik, hari Rabu 22/04/2026.
"Logika sederhana saja, koneksi internet di SMA/SMK Negeri itu yang paling utama untuk menjalankan aplikasi-aplikasi administrasi sekolah dari berbagai kementerian dan Pemprov Banten. Jadi kebutuhannya koneksi domestik atau disebut juga koneksi nasional. Bukan koneksi ke luar negeri yang disebut koneksi internasional," kata Siprandani.
Terlebih, menurut Siprandani, Google, Facebook, Youtube dan banyak media sosial lainnya sudah menggunakan server lokal atau server untuk pengguna di Indonesia sudah diletakan di wilayah Indonesia. Jadi cukup dengan koneksi domestik, sudah tidak perlu lagi koneksi internasional.
"Penyedia internet atau sering disebut ISP dalam menyediakan paket akses internet domestik, bukan berarti tidak menyediakan akses internasionalnya. Biasanya mix 99% domestik dan 1% internasional. Karena itu tadi, google, youtube dan lainnya sudah menggunakan server lokal," ujar Siprandani.
ISP yang dipilih Diskominfo SP Banten untuk penyediaan akses internet 30 mbps dedicated di 27 SMA/SMK Negeri di wilayah Kabupaten Serang adalah PT STP. Hasil penelusuran di eKatalog, PT STP hanya punya 2 produk di direktori Fiber Optik Domestik.
Yaitu STP Internet Kelurahan Kecamatan 30 M Rp2.150.000 dan STP Internet Kelurahan Kecamatan 30 M Gold Rp2.150.000. PT STP tidak punya produk Fiber Optik Domestik 30 mbps dedicated atau Fiber Optik Mix 30 mbps dedicated. Satu-satunya produk internet PT STP dengan spesifikasi 30 mbps dedicated adalah STP Internet International Dedicated 30 mbps Rp6.200.000. Produk ini berada di direktori Fiber Optik Internasional.
"Logikanya, saat mencari penyedia internet atau ISP untuk SMA/SMK Negeri, Diskominfo pasti melihat di direktori Fiber Optik Domestik. Di direktori itu banyak ISP yang menyediakan produk 30 mbps dedicated.
Dan ada juga yang harganya di bawah Rp6,2 juta. Ini kenapa lihatnya di direktori Fiber Optik Internasional? Kan aneh, mau beli duren lokal tapi nyarinya di pasar duren import. Enggak nyambung banget," ungkap Siprandani.
Apalagi, Siprandani menambahkan, pengadaan akses internet untuk SMA/SMK Negeri di wilayah Pandeglang, Lebak dan Kota Serang dipilih dari direktori Fiber Optik Domestik. Kenapa untuk Kabupaten Serang malah memilih dari direktori Fiber Optik Internasional?"Ibarat ditugasi beli duren lokal di Pasar Rau, eh malah belanja duren montong di Harco Mangga Dua.
Ini yang ngongkosin tukang klik ke Harco Mangga Dua siapa? enggak mungkin ongkos sendiri," papar Siprandani. Siprandani meminta Inspektorat untuk melakukan audit tertentu atas pengadaan akses internet SMA/SMK Negeri di wilayah Kabupaten Serang.
Nama proyeknya Beban Kawat/Faksmili/Internet/TV Berlangganan wilayah Kabupaten Serang dengan pagu Rp1,94 miliar. "Audit ini ditujukan mencari tahu alasan pindah belanja dari Pasar Rau ke Harco Mangga Dua. Apakah nyasar atau ada yang memandu? Lalu siapa yang mengongkosi tim nge-klik itu ke Harco-Mangga Dua. Enggak mungkin juga pakai ongkos sendiri," kata Siprandani, ujarnya. (Asp)