Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Fraksi Partai Gerindra mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk segera merealisasikan pekerjaan normalisasi parit Sungai Rano, Kelurahan Rano, Kecamatan Muara Sabak Barat.
Sekretaris Fraksi Gerindra, Usman, S.IP, menegaskan, bahwa penanganan masalah ini harus menjadi prioritas utama.
Pekerjaan ini dinilai sangat krusial mengingat dampak yang ditimbulkan sangat besar jika dibiarkan, berpotensi memicu banjir yang jauh lebih parah dibandingkan kejadian dua tahun terakhir, tegasnya, pada Jum'at, 24/04/26.
Nyata luapan air banjir dua tahun terakhir berturut-turut, wilayah tersebut kerap dilanda genangan saat musim penghujan tiba, khususnya pada periode Desember hingga Februari.
Meskipun fenomena alam sulit diprediksi, kesiapan infrastruktur harus dipastikan agar mampu menampung debit air. "Kita tidak tahu kapan hujan dengan intensitas sama akan kembali turun. Intinya, jangan biarkan masyarakat hidup dalam kecemasan dan ketakutan akan ancaman banjir yang terus membayangi," tandas Usman.
Politisi Gerindra ini menekankan, agar penanganan yang hampir 2000 meter lagi untuk segera direalisasikan pada tahun ini. Jangan menunggu bencana besar terjadi baru bertindak. "Jangan menunggu banjir yang lebih besar melanda baru kita bergerak.
Sebaiknya kita bertindak lebih awal agar masyarakat terlindungi dan terbebas dari rasa ketakutan," katanya mengingatkan. Normalisasi Sungai Rano dinilai sangat mendesak dan urgen demi menjamin keselamatan, kenyamanan warga, serta melindungi lahan pertanian dan perkebunan di wilayah tersebut dari kerusakan yang lebih parah, tambahnya mengimbau.
Hasil pantauan langsung di lapangan menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sungai Rano yang seharusnya berfungsi sebagai saluran air utama, kini nyaris tidak lagi menampakkan wujud sebagai sebuah sungai. Arah pandang mata tidak lagi melihat aliran air melainkan hamparan tanaman liar yang rimbun.
Saluran air tersebut telah berubah total menjadi seperti belukar yang dipenuhi oleh berbagai jenis gulma dan tanaman air yang tumbuh subur liar. Vegetasi yang menutupi permukaan air begitu lebat, sehingga aliran sungai asli tertutup rapat dan sulit dikenali lagi.
Kondisi ini jelas mengindikasikan bahwa sungai tersebut telah mengalami pendangkalan parah dan penyempitan saluran yang ekstrem. Kondisi ini semakin menguatkan desakan dari DPRD dan masyarakat agar pemerintah daerah segera bertindak.
Dengan kondisi yang sudah berubah menjadi seperti lahan semak belukar, kapasitas sungai dalam menampung dan mengalirkan air tentu sudah sangat berkurang drastis.
Jika dibiarkan terus menerus tanpa adanya upaya normalisasi dan pengerukan, maka saat musim penghujan tiba, air tidak akan memiliki jalan keluar yang lancar.
Potensi terjadinya banjir besar yang merendam permukiman warga serta merusak lahan pertanian dan perkebunan di wilayah Kelurahan Rano dan sekitarnya, menjadi sangat nyata dan dimungkinkan tidak akan terhindari. (Jdk)