Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Keluarga besar Punguan Borbor Marsada, wadah persatuan masyarakat Batak di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), menyampaikan ucapan selamat dan doa restu yang tulus atas berlangsungnya pernikahan suci antara Lusiana Damanik dan Hendra Silaban.
Hari bahagia ini menjadi momen sukacita yang besar dan membanggakan bagi seluruh anggota persatuan Borbor, sekaligus menjadi bukti terjalinnya ikatan yang erat antar sesama di perantauan. Rangkaian acara pernikahan dilaksanakan dengan khidmat dan penuh makna pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Diawali dengan ibadah pemberkatan di Gereja HKBP Kota Baru, lalu dilanjutkan dengan resepsi adat yang digelar di Gedung Gracia, kawasan Kota Baru, Jambi.
Suasana haru dan bahagia menyelimuti seluruh rangkaian kegiatan, dihadiri oleh keluarga besar, kerabat, serta sejumlah undangan yang saling mengasihi dari kedua mempelai.
Ketua Punguan Borbor Marsada Tanjabbar, J Pasaribu, dalam penyampaian nya menyatakan, bahwa penyatuan kedua insan ini adalah anugerah dan berkat Tuhan yang luar biasa.
Pernikahan ini mempersatukan dua keluarga besar yang terhormat, yakni marga Damanik dan marga Silaban, yang sama-sama menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan iman.
Lusiana Damanik merupakan putri pertama dari tiga bersaudara, anak kandung dari almarhum D Damanik dan Ibu T br Turnip yang bertempat tinggal di Kuala Tungkal.
Sementara itu, Hendra Silaban adalah putra sulung dari tiga bersaudara, putra dari Bapak Silaban dan almarhumah Ibu br Mangunsong, warga Kota Jambi.
“Kepada Ibu T br Turnip dan Bapak Silaban, kami mengucapkan selamat yang setulus-tulusnya. Putra-putri kita kini telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan kudus.
Kiranya Tuhan senantiasa memberikan berkat, kekuatan, dan ketabahan bagi Bapak dan Ibu, dalam melepas mereka untuk membangun bahtera rumah tangga baru,” ujar Pasaribu dengan nada hangat.
“Kepada bapak Silaban beserta seluruh keluarga di Jambi, kami juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Terima kasih atas kepercayaan dan penerimaan yang tulus, menyambut Lusiana sebagai bagian dari keluarga besar Bapak.
Semoga ikatan yang terjalin ini membawa berkah, serta semakin mempererat tali persaudaraan dan hubungan baik antara kedua keluarga,” tambahnya. Lebih lanjut, Pasaribu menegaskan makna mendalam dari pernikahan dalam tatanan adat Batak.
Baginya, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua orang pribadi, melainkan penyatuan dua marga, dua keluarga besar, serta seluruh sanak saudara yang tergabung dalam ikatan persaudaraan. “Kami berdoa semoga rumah tangga yang dibangun oleh Lusi dan Hendra senantiasa menjadi keluarga Kristen yang takut akan Tuhan.
Semoga mereka saling mengasihi, saling menghormati, dan setia satu sama lain sampai maut memisahkan. Jadilah kalian satu daging, satu hati, dan memiliki satu tujuan yang sama.
Jadilah berkat bagi keluarga, bagi gereja, bagi sesama, dan bagi negri,” tegasnya. Ia juga berharap, pernikahan ini dapat menjadi teladan dan penyemangat bagi generasi muda yang tergabung dalam Borbor Marsada Tanjabbar, khususnya yang tinggal di Kuala Tungkal. Semoga mereka senantiasa menjaga kelestarian adat, budaya, serta memegang teguh iman Kristen, meskipun berada di tanah perantauan.
“Kami seluruh keluarga besar Punguan Borbor Marsada Tanjabbar akan senantiasa mendoakan, agar Tuhan Yang Maha Esa selalu menyertai, melindungi, dan memberkati langkah mereka berdua.
Horas, horas, horas!” serunya, disusun dengan pantun adat yang penuh makna “Borbor na i lambung, naimarata na i tonga, Sada daging sada roha, gabe pasupasu saleleng ni huta.” (Artinya: Seperti aliran sungai yang menyatu, seperti adat yang terjaga lurus, jadilah kalian satu daging satu hati, menjadi berkat sepanjang masa dan bagi seluruh negeri). (Jdk)