18 Mei 2026 | Dilihat: 87 Kali

Tanjabtim, Hanya Untuk Mendapatkan Solar Bersubsidi Antrian Truk Mengular Berhari-hari

Tanjabtim, Hanya Untuk Mendapatkan Solar Bersubsidi Antrian Truk Mengular Berhari-hari

Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Suasana sesak dan penuh rasa kesal menyelimuti ratusan  pengemudi truk angkutan barang, baik angkutan  sawit maupun berbagai jenis muatan barang lainnya, di kawasan Perkantoran-Bukit Benderang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim).

Ratusan truk terpaksa harus mengantre berhari-hari, bahkan hingga dua malam lamanya, hanya untuk mendapatkan jatah pengisian solar bersubsidi di SPBU setempat. Antrian kendaraan berat itu membentang panjang di sepanjang Jalan Lettu M Thohir, menimbulkan pemandangan kurang estetika yang berdampingan langsung dengan pusat pemerintahan dan berbagai dampak negatif, mulai dari kerugian usaha, gangguan penggunaan arus lalulintas hingga ancaman kerusakan  infrastruktur jalan. 

Salah satu pengemudi inisial AM, menyampaikan keluh kesahnya bersama rekan-rekan sesama pengemudi pada Minggu, 17 Mei 2026. Menurutnya, waktu yang terbuang sia-sia dalam antrean ini membawa dampak nyata bagi jalannya usaha angkutan.

Perjalanan tripan berkurang dan dengan terpaksa kita harus  menunda angkutan, sementara di sisi lain biaya operasional terus membengkak, mulai dari uang jalan, biaya makan, hingga kebutuhan harian lainnya yang bertambah seiring lamanya mereka menunggu antrian. 

“Kondisi seperti ini tentu sangat memberatkan kami dan para pemilik kendaraan. Hal ini perlu menjadi perhatian serius, terutama bagi manajemen SPBU 24.365.56 Jalan Kapten Marzuki-Talang Babat.

Kami sangat berharap ada pengaturan yang lebih baik agar kejadian seperti ini tidak terus berulang,” ungkap AM dengan nada prihatin. Para supir menduga penyebab memanjangnya antrian saat ini, adanya praktik penggunaan solar bersubsidi oleh kalangan industri, yang didapatkan melalui jalur pemasok atau pelangsir bahan bakar minyak.

Dugaan ini semakin menguat setelah terjadi lonjakan harga BBM jenis Dexlite yang naik sangat signifikan, dari sebelumnya Rp14.200 menjadi Rp26.600 per liter. 

“Sebelum harga BBM non-subsidi naik, antrian tidak pernah separah ini. Kami bisa mendapatkan solar dengan mudah dan tidak perlu menunggu berhari-hari.

Tapi sejak harga Dexlite melonjak, situasi berubah drastis. Kami harus rela menghabiskan waktu dua malam hanya untuk bisa mengisi bahan bakar yang kami butuhkan untuk bekerja,” tambah mereka dengan nada kesal. Selain menimbulkan kerugian dari sisi ekonomi, antrian kendaraan berat yang memarkirkan diri dalam waktu lama di bahu jalan juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri.

Beban muatan yang tertumpu terus-menerus di tepi jalan dinilai akan memberikan tekanan berlebih pada permukaan jalan, sehingga akan mempercepat kerusakan infrastruktur bahu jalan. Jika dibiarkan, hal ini nantinya akan menyulitkan kelancaran arus lalu lintas dan menimbulkan biaya perbaikan yang tidak sedikit bagi daerah.

Para pengemudi dan pelaku usaha angkutan sangat berharap, agar pihak-pihak terkait segera mencari solusi terbaik. Dengan pengaturan yang tepat, mereka berharap pasokan solar bersubsidi bisa didapatkan dengan mudah, hak pengguna terpenuhi, dan aktivitas angkutan barang bisa berjalan lancar. (Jdk)