3 September 2026 | Dilihat: 114 Kali

HILIRISASI KELAPA DAN PALA MALTENG MASUK BABAK BARU — PETANI DIMINTA RAMAI-RAMAI TANAM, JADIKAN LAHAN PRODUKTIF DAN MASA DEPAN DAERAH

HILIRISASI KELAPA DAN PALA MALTENG MASUK BABAK BARU — PETANI DIMINTA RAMAI-RAMAI TANAM, JADIKAN LAHAN PRODUKTIF DAN MASA DEPAN DAERAH

Malteng | mapikornews.com — Hilirisasi komoditas kelapa dan pala di Kabupaten Maluku Tengah memasuki tahapan penting. Pemerintah Provinsi Maluku bersama Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah terus mematangkan persiapan pembangunan industri pengolahan yang diharapkan mampu mengubah wajah ekonomi masyarakat dari sekadar menjual bahan mentah menjadi daerah penghasil komoditas bernilai tambah.

Rapat koordinasi kembali digelar di Kantor Gubernur Maluku, Ambon, Selasa 01 September 2026, dipimpin Sekretaris Daerah Maluku, Sadali Ie. Pertemuan tersebut dihadiri Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, Ketua DPRD Maluku Tengah, Herry Men Carl Haurissa, PTPN 1, Firman’s Group, akademisi serta sejumlah pimpinan perangkat daerah dan instansi terkait.

Investasi yang diperkirakan mencapai Rp640 miliar tersebut terdiri atas sekitar Rp 500 miliar untuk industri kelapa dan Rp140 miliar untuk industri pala. Pembangunan fisik ditargetkan mulai dikerjakan pada awal Oktober 2026 setelah sebelumnya dilakukan groundbreaking oleh Presiden RI pada 29 April 2026.

Industri tersebut dirancang untuk mengolah kelapa dengan kapasitas sekitar 600 ribu butir per hari. Kelapa tidak lagi berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi akan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, termasuk coconut milk.

Sementara komoditas pala akan diarahkan menjadi nutmeg oleoresin, bahan yang memiliki peluang pemanfaatan dalam berbagai industri, termasuk pangan, kosmetik dan farmasi.

PETANI HARUS MENANGKAP PELUANG BESAR INI

Di tengah persiapan pembangunan industri, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan mulai memperkuat sisi paling penting dari rantai industri tersebut: ketersediaan bahan baku dari petani.

PLT Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Maluku Tengah, Jhon Arthur Wattimena, S.Hut, saat dikonfirmasi mapikornews.com di ruang kerjanya, mengatakan sesuai arahan Bupati, Bpk Zulkarnain Awat Amir, maka sebagai pembantu Bupati,kami dari dinas telah bergerak turun negeri - negeri bertemu dengan  masyarakat untuk memberikan sosialisasi dan pendampingan kepada petani.

“Untuk menyukseskan program hilirisasi industri ini, saya dan teman - teman staf sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan kelompok tani di negeri - negeri. Puji Tuhan, sudah sekian puluh banyak kelompok tani yang berkasnya berhasil dirampungkan dan dikirim ke kementrian”dan kita hanya menunggu arahan dari kementerian" ujar Jhon Arthur.

Menurutnya, sosialisasi tidak berhenti pada kelompok tani yang telah terdata. Tim dari dinas masih terus memberikan pemahaman kepada masyarakat, terutama para pemilik lahan, mengenai peluang yang terbuka melalui program hilirisasi kelapa dan pala.

“Teman - teman masih tetap memberikan sosialisasi kepada masyarakat petani, terutama pemilik lahan. Kalau mereka bersedia, teman - teman akan membantu menyiapkan surat dan proposal untuk membantu mempermudah para petani,” jelasnya.

GERAKAN MENANAM HARUS MENJADI GERAKAN BERSAMA

Momentum pembangunan industri kelapa dan pala semestinya tidak hanya dilihat sebagai proyek pembangunan pabrik. Lebih jauh dari itu, hilirisasi harus menjadi gerakan ekonomi masyarakat dari tingkat kebun hingga pasar.

Karena itu, masyarakat Maluku Tengah, khususnya pemilik lahan dan generasi muda di negeri - negeri, perlu melihat kelapa dan pala bukan sekadar tanaman warisan, tetapi sebagai aset ekonomi jangka panjang.

Menanam kelapa dan pala hari ini berarti menyiapkan bahan baku untuk industri di masa depan. Semakin luas kebun produktif dan semakin kuat kelompok tani, semakin besar pula peluang masyarakat mengambil bagian dalam rantai ekonomi hilirisasi.

Gerakan menanam juga memiliki manfaat yang lebih luas. Kebun yang dikelola secara baik dapat membantu menjaga lingkungan, memperkuat ketahanan pangan masyarakat, menyediakan sumber pendapatan keluarga dan membuka peluang ekonomi baru di desa.

JANGAN SAMPAI PABRIK BERDIRI, BAHAN BAKU JUSTRU KURANG

Pemerintah dan masyarakat kini menghadapi tantangan yang sama: memastikan industri yang dibangun benar - benar memiliki pasokan bahan baku yang berkelanjutan.

Jangan sampai industri berdiri megah, tetapi bahan baku kelapa dan pala justru tidak mencukupi. Karena itu, persiapan petani harus berjalan seiring dengan persiapan pembangunan fisik industri.

Pemerintah daerah dituntut tidak hanya melakukan sosialisasi, tetapi juga memperkuat pendampingan, penyediaan bibit berkualitas, peningkatan kapasitas petani, penguatan kelompok tani, kepastian pasar serta tata kelola rantai pasok.

Di sisi lain, masyarakat juga harus berani menangkap peluang tersebut dengan menghidupkan kembali lahan - lahan produktif.

Satu rumah menanam kelapa dan pala. Satu kelompok tani memperluas kebun. Satu negeri membangun sentra produksi. Jika dilakukan bersama - sama, gerakan kecil itu dapat menjadi kekuatan ekonomi besar bagi Maluku Tengah.    Harapan besar  Bupati Bpk Zulkarnain Awat Amir,

HILIRISASI HARUS BERMUARA PADA KESEJAHTERAAN RAKYAT

Dengan proyeksi sekitar 3.000 lapangan kerja, industri hilirisasi kelapa dan pala diharapkan memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari petani, tenaga kerja, transportasi, perdagangan, jasa, UMKM hingga sektor logistik.

Namun keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari berdirinya pabrik. Ukuran terpenting adalah seberapa besar nilai tambah dan kesejahteraan yang benar - benar kembali kepada masyarakat Maluku Tengah.

Karena itu, keberadaan industri harus diikuti dengan penguatan petani sebagai pemilik dan penghasil bahan baku.

Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan menyatakan akan terus mendorong masyarakat untuk terlibat dalam program tersebut.

“Semua ini untuk kesejahteraan masyarakat Maluku Tengah yang kita cintai,” tegas Jhon Arthur Wattimena.

Kini bola berada di tangan semua pihak. Pemerintah menyiapkan kebijakan dan pendampingan, investor menyiapkan industri, sementara masyarakat petani menyiapkan bahan baku.

Jika ketiganya berjalan bersama, hilirisasi kelapa dan pala bukan sekadar pembangunan pabrik, tetapi dapat menjadi tonggak kebangkitan ekonomi baru Maluku Tengah.

Saatnya lahan tidur dihidupkan. Saatnya kelapa dan pala ditanam lebih banyak. Saatnya petani menjadi bagian utama dari industri daerah. Dan saatnya Maluku Tengah tidak lagi hanya dikenal sebagai penghasil bahan mentah, tetapi sebagai daerah yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah untuk pasar nasional hingga dunia.tutupnya. (MO-AH).