Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Apa yang selama ini dianggap limbah dan dibuang begitu saja, kini berubah menjadi sumber penghasilan nyata. Sabut kelapa yang menumpuk di perkebunan seantero Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), akhirnya menemukan nilai ekonomis tinggi, berkat kerja sama Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Tanjabtim bersama mitra usaha PT Coco Indo yang resmi membuka jalur ekspor produk olahan sabut kelapa atau coco chip ke pasar Tiongkok (China).
"Kebutuhan kontraknya sangat besar, yakni 10 hingga 15 kontainer setiap bulan, setara 300 ton sabut kelapa olahan," ungkap Manager Pemasaran PT Coco Indo, Wahyu Pranoto, saat ditemui di lokasi gudang pengolahan Kelurahan Rano, Kecamatan Muara Sabak Barat, Senin (24/08/2026).
Kabar ini menjadi angin segar bagi ribuan petani kelapa dalam daerah yang selama ini tertekan harga anjlok, karena hasil kebun hanya dijual sebagai bahan baku santan atau kopra dengan nilai yang sangat terbatas.
Kini hadir alternatif baru yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. "Untuk tahap awal pemenuhan bahan baku, kami fokus menyerap hasil dari wilayah Kuala Jambi dan sekitarnya.
Seiring meningkatnya permintaan pasar, ke depannya kami akan merambah dan menjangkau seluruh wilayah di Tanjabtim," jelas Wahyu penuh antusias.
Ia menambahkan bahwa pengiriman perdana produk ekspor ini direncanakan akan terlaksana pada bulan September 2026 mendatang.
Usaha kreatif ini turut disaksikan langsung oleh Mantan Bupati Tanjabtim, H. Ambo Tang, yang turun meninjau proses pengolahan coco chip secara langsung di lokasi.
"Ini pencapaian yang patut dibanggakan seluruh masyarakat. Usaha semacam ini adalah jalan baru yang nyata untuk mengangkat taraf ekonomi petani kelapa kita," ujar H. Ambo Tang.
Ia berharap potensi pasar ekspor ini terus berkembang pesat, namun menegaskan keberlangsungannya butuh dukungan sinergis dari semua pihak: "Petani harus siap menjadi pemasok yang andal, sementara Pemerintah Daerah wajib hadir memfasilitasi kepastian legalitas dan kemudahan prosesnya.
"Lebih jauh, H. Ambo Tang menekankan bahwa hilirisasi produk kelapa seperti ini mampu memutus rantai perantara yang merugikan, sehingga harga yang diterima petani menjadi jauh lebih adil dan layak.
Dengan target penyerapan hingga 300 ton per bulan, usaha ini diproyeksikan menampung ribuan ton sabut kelapa yang dulunya hanya menjadi sampah atau dibakar.
Artinya, lingkungan perkebunan menjadi lebih bersih, petani mendapatkan tambahan penghasilan yang berarti, dan Tanjabtim kini memiliki komoditas unggulan ekspor baru.
Optimisme pun tumbuh di kalangan pelaku usaha dan masyarakat sekitar sabut kelapa yang dulunya dibuang, kini ditimbang, dinilai, dan menghasilkan rupiah bagi kesejahteraan bersama, ungkap Ambo Tang, penuh haru.
Terpisah, Ketua Kamar Dagang dan Industri Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Apif Firmansyah, menyebut masuknya produk coco chip ke pasar ekspor China sebagai bukti nyata bahwa Tanjabtim memiliki daya saing di kancah internasional.
"Ini bukan sekadar ekspor komoditas. Ini adalah bukti bahwa Tanjabtim punya produk turunan kelapa yang bisa diterima pasar global," terang Apif.
Menurut Apif, kebutuhan 10-15 kontainer per bulan atau setara 300 ton coco chip ke China adalah pintu awal. Jika kualitas dan kontinuitas terjaga, peluang pasar akan semakin terbuka lebar.
"Kita harus optimis. Pasar ekspor ini menuntut konsistensi. Maka tugas kita di Kadin adalah memastikan rantai pasok dari petani lancar dan investor merasa nyaman," tegasnya.
Apif juga menekankan bahwa hilirisasi seperti ini harus menjadi model. "Jangan lagi kita hanya jual bahan mentah. Sabut yang dulu dibuang, sekarang punya nilai ekonomi. Ini yang kita dorong. Ekonomi kerakyatan berbasis lingkungan," jelasnya.
"Kalau September ini pengiriman perdana berjalan mulus, saya yakin permintaan akan naik. Dan saat itu, petani kelapa kita lah yang paling diuntungkan," kata Apif, optimis.(Jdk)