Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com —Bangunan Fasilitas Kesehatan (Faskes) Puskesmas Status Rawat Inap Simpang Pandan, Kelurahan Pandan Jaya, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), kini dalam kondisi memprihatinkan.
Dari hasil pantauan media ini, Sabtu (03/10/2026), Puskesmas yang menjadi tumpuan pelayanan kesehatan primer tersebut, 70 persen dalam kondisi rusak berat. Bangunan ini merupakan aset peninggalan era transmigrasi tahun 80-an yang masih mempertahankan struktur lama, dan kini membutuhkan pembangunan total, bukan sekadar rehabilitasi ringan.
Padahal, cakupan layanan Puskesmas Simpang Pandan sangat vital. Wilayah kerjanya meliputi 8 Desa dan 1 Kelurahan di Kecamatan Geragai, dengan jumlah penduduk sekitar 28.599 jiwa. Artinya, hampir 30 ribu warga menggantungkan hak dasar kesehatannya pada bangunan yang dianggap kurang layak.
Sesuai petunjuk teknis bangunan Faskes primer terintegrasi dari Kementerian Kesehatan, sebuah Puskesmas Rawat Inap wajib memenuhi standar keselamatan bangunan, kelayakan fungsi, alur pelayanan yang terpisah antara rawat jalan dan gawat darurat, serta sanitasi dan IPAL yang memenuhi baku mutu kesehatan lingkungan.
Namun fakta di lapangan berbanding terbalik, dengan rincian teknis kerusakan:
1. Struktur deck triplek pada area rawat jalan dan aula utama terlihat menganga, lapuk dan bolong. Kondisi ini tidak lagi memenuhi standar keselamatan pasien dan alur pelayanan yang seharusnya steril, aman dan nyaman.
2. Hampir seluruh atap seng, termasuk di atas ruang laboratorium, telah berkarat, keropos dan menipis. Kebocoran saat musim hujan tinggal menunggu waktu. Peralatan laboratorium yang bernilai vital terancam rusak akibat rembesan air.
3. Akses utama masuk Puskesmas harus melewati jembatan besi. Jalan lanjutan menuju pintu Unit Gawat Darurat (UGD) juga mengalami kerusakan. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi pasien yang turun dari mobil ambulans dan berpotensi menghambat proses evakuasi gawat darurat.
4. Secara umum, bangunan induk Puskesmas masih bangunan lama era transmigrasi. Pengembangan ruangan hanya berupa penambahan dari bangunan induk, tanpa pembangunan gedung baru yang terintegrasi.
Dengan beban kerja melayani 28.599 jiwa, kunjungan pasien setiap hari Senin hingga Kamis mencapai 40-50/ hari pasien rawat jalan, dan 5-7 pasien rawat inap.
Di tengah keterbatasan fisik gedung, semangat tenaga kesehatan (Nakes) tetap terjaga. Pelayanan kesehatan yang elegan, humanis, ramah dan profesional tetap menjadi komitmen, meski harus bekerja di bawah bayang-bayang rasa was-was akan kondisi gedung.
Kepala Puskesmas Simpang Pandan yang baru dilantik, Bid. Heni Febriana S.Tr.Keb, saat dikonfirmasi diruang kerjanya menyampaikan harapannya.
"Hitung hari saya baru dilantik di sini, dan saya langsung melihat kondisi real di lapangan. Dengan cakupan layanan 8 desa 1 kelurahan hampir 29 ribu jiwa, kami berharap besar adanya perhatian dari Pemerintah Daerah untuk pembangunan gedung baru yang terintegrasi, sesuai standar pelayanan kesehatan. Kami ingin Nakes bekerja aman, nyaman, dan pasien merasa terlindungi. Kami tetap berkomitmen memberikan pelayanan yang terbaik, yang elegan dan tulus untuk masyarakat," ungkap Heni Febriana.
Kini masyarakat menanti realisasi. Jika benteng kesehatan untuk 28.599 jiwa ini dibiarkan rusak berat, maka yang dipertaruhkan bukan hanya gedung, melainkan keselamatan dan harapan pelayanan kesehatan yang adil dan merata bagi masyarakat Geragai kurang terpenuhi. (Jdk)