2 Oktober 2026 | Dilihat: 13 Kali

Selamatkan Ekologi Pantai Pesisir, Kades Teluk Kijing & Simpang Jelita: "Minta KADIN Sulap Sabut Kelapa Menuju Ekonomi Hijau"

Selamatkan Ekologi Pantai Pesisir, Kades Teluk Kijing & Simpang Jelita: "Minta KADIN Sulap Sabut Kelapa Menuju Ekonomi Hijau"

Tanjabtim-Jambi | mapikornews.com — Gaung ekspor perdana Coco Chip 300 ton ke China yang difasilitasi KADIN Tanjabtim dan PT Sabak Coco Indo, memantik gerakan ekonomi hijau dari Pemdes wilayah pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim).

Kepala Desa Teluk Kijing Kecamatan Nipah Panjang, Muhammad Ali bersama Kades Simpang Jelita, Budi, meminta Ketua KADIN Tanjabtim Apif Firmansyah, untuk memfasilitasi pembukaan jalur pengolahan sabut kelapa di desa mereka.

Permintaan itu disampaikan saat berada di Kantor Dinas PMD Tanjabtim, Kamis, 01/10/26. Langkah ini bukan hanya soal ekonomi, melainkan strategi penyelamatan lingkungan pesisir.

Kades Muhammad Ali menegaskan, yang tidak kalah penting dengan hadirnya olahan sabut kelapa ini nantinya bukan saja fokus kepada pendapatan petani, akan tetapi akan sangat potensial mempengaruhi lingkungan ekosistem pantai.

Menurutnya, Desa Teluk Kijing dan Pemusiran merupakan wilayah pesisir yang sangat rentan pencemaran. Selama ini ratusan ton limbah sabut per bulan menumpuk, dibuang ke parit, sungai hingga terbawa ke bibir pantai. Tumpukan yang membusuk mencemari air, merusak habitat mangrove dan menghambat aliran sungai menuju laut.

Banyak sabut yang hanyut ke pantai, menumpuk dan membusuk. Ini merusak keindahan pantai dan mengganggu ekosistem mangrove serta biota laut. Jika ada pengolahan, pantai kami akan bersih, lingkungan sehat, jelas Kades.

Analisis penulis, potensi limbahnya sabut sangat raksasa. Dengan asumsi produktivitas 800 hingga 1.200 butir per hektare per tahun dan luas perkebunan rakyat sekitar 30 ribu hektare, maka dua desa tersebut menghasilkan rata-rata 10.500 ton limbah sabut per tahun. Rinciannya, produksi rendah menghasilkan 8.400 ton, produksi sedang 10.500 ton, dan produksi tinggi 12.600 ton per tahun artinya potensi dua desa ini mampu memenuhi  kebutuhan ekspor.

Senada, Kades Simpang Jelita, Budi juga berharap yang sama di desanya. Namun ia mengakui ada tantangan tersendiri terkait akses transportasi.

Menurutnya, wilayah desanya tidak dapat dilalui kendaraan mobil langsung, sehingga biaya transportasi menjadi mahal dan perlu pola angkut khusus.

Kami sangat berharap juga. Potensi olahan  sabut di Simpang Jelita juga melimpah, cuma kendala kami di angkutan. Mobil tidak bisa masuk langsung ke lokasi. Kalau ada jalur pengolahan atau sistem pengepul yang bisa jemput sampai perahu, tentu sangat membantu petani kami, ujar Budi.

Ia optimis jika persoalan transportasi ini mendapat perhatian dan solusi dari KADIN, Simpang Jelita juga bisa menjadi salah satu lumbung bahan baku Coco Chip yang ikut menyumbang kebersihan pantai dan pendapatan petani pesisir.

Ekonomi hijau.Petani dapat uang, pantai bersih, mangrove terjaga. Inilah pembangunan berkelanjutan yang kami harapkan di pesisir Tanjabtim, ungkap kedua Kades dengan penuh harap. (Jdk)